|
Natal Yang Sederhana, Mungkinkah?
|
Bulan Desember memang identik dengan Natal. Dan biasanya di bulan ini, akan muncul banyak hal-hal istimewa khas Natal, seperti pohon Natal, lampu Natal, kue Natal, kartu Natal, dsb. Pesta-pesta pun mulai digelar. Ibadah pun demikian. Bahkan biasanya lebih meriahdibanding bulan-bulan lainnya. Mengapa? Ya, iyalah, kan Natal. Namun sesungguhnya jika kita membaca kembali Firman Tuhan, apakah sesungguhya makna merayakan Natal? Dan haruskah kita merayakannya dalam gemerlap suasana dan situasi yang menghabiskan banyak uang? Ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan, yaitu: - Natal berarti kabar baik (Lukas 2:10-11)
Natal sejatinya adalah kabar baik. Bahwa Allah mau menjadi manusia untuk menyelamatkan setiap kita yang berdosa. Dia menggantikan posisi kita dan menghapuskan setiap dosa kita, memberikan kepada kita kehidupan yang baru di dalam kerajaan-Nya. Inilah inti Natal. Pertanyaannya, kalau hanya untuk merayakan kabar baik, tentu tak perlu sampai menghabiskan jutaan rupiah bukan? Ada banyak cara untuk memaknai kabar baik Natal, seperti mengucap syukur atas pengorbanan Tuhan. Dan ini tidak perlu dengan biaya besar, bukan? Jika kita memahami Natal sebsgai kabar baik itu, bukan pernak-pernik untuk merayakannya.
- Natal berarti pengorbanan (Yohanes 3:16)
Natal intinya adalah pengorbanan. Ya, pengorbanan Bapa yang merelakan anak-Nya untuk turun ke bumi, menjadi manusia dan hidup untuk menderita di kayu salib, demi menyelamatkan orang berdosa. Makna inilah yang seharusnya kita dengungkan di dalam merayakan Natal. Berkorban yang seperti apa yang bisa kita lakukan? Ada banyak! Seperti mengunjungi yang terbuang, menghibur yang sakit, mendoakan yang tertekan. Hal-hal ini adalah bentuk pengorbanan sederhana yang bisa kita lakukan di hari Natal. Sederhana, namun sarat makna,kan?
- Natal berarti Kemenangan (Lukas 1:37)
Merayakan Natal berarti merayakan kemenangan. Bahwa kita telah menang atas sengat dosa dan maut. Bahwa dalam kelahiran Yesus, kita beroleh pengharapan baru akan hidup kekal selamanya. Hal ini juga berarti tidak ada apa pun lagi yang bisa mengalahkan kita. Jika maut saja sudah dikalahkan, apa lagi yang melebihi itu? Jadi, memaknai Natal dengan kemenangan bisa kita lakukan dengan cara membagi berkat dan memberi bagi yang kekurangan sebagai bukti bahwa kita telah merdeka. Karena hanya orang merdeka yang berani memberi.
Anda lihat? Dari semua hal ini, tak satupun yang bisa menjadi dasar untk kita merayakan Natal dengan kemewahan dan kemeriahan yang menghabiskan jutaan uang, bahkan kadang sampai berutang. Natal justru harus kita kembalikan kepada makna yang sesungguhnya. Dalam kesederhanaan pun, kita tidak akan kehilangan makna Natal. Justru semakin kita mengerti makan Natal yang sejati, semakin kita tahu yang Tuhan inginkan adalah kepeduliaan membagi kabar baik itu kepada orang lain sehingga mereka pun turut bersukacita dalam Natal. Selamat merayakan Natal. Selamat menapaki kesederhanaan.
|