|
Kepekaan Perspektif Perempuan Sunem
|
|
|
|
Bulan lalu kita menyimak keramahan perempuan Sunem. Kali ini kita akan menyoroti kepekaan perspektif dalam mengenali karakter sejati seseorang.
Ia berkata kepada suaminya, “Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang Kudus.” Kepekaan terhadap karakter orang lain ini merupakan unsure pokok kebesaran jiwa.
Perempuan ini tidak mengundang setiap orang yang lewat datang ke rumahnya. Ia mengenali siapa yang Allah tetapkan untuk menikmati hidangannya dan memperkaya keluarganya. Alkitab memperingatkan, ada orang-orang yang sepatutnya tidak anda undang untuk makan di rumah anda. 1 Korintus 5:11, “Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul,kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”
Kita juga diperintahkan di dalam II Yohanes 10-11, “Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barang siapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.”
Kita menyatakan persetujuan dan penghargaan kepada orang-orang yang kita undang ke rumah kita. Penting bagi orang tua yang memperluas dunia mereka dan dunia anak-anak meraka mengajak tamu datang ke rumah. Namun, sangat penting pula untuk mengenali karakter orang-orang yang menjadi tamu tersebut.
Daud mengatakan bahwa ia akan menjadikan orang-orang yang saleh sebagai pahlawan di rumahnya. “Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan aku” (Mazmur 101:6).
Bagaimana kita mengembangkan kepekaan terhadap karakter sejati seseorang? Perempuan Sunem ini mengungkapkan suatu rahasia. Kita melakukannya dengan melayani orang. Dengan menghidangkan makanan ia akan segera dapat mengenali sikap dan tindakan Elisa yang memancarkan krakter batiniahnya. Orang yang melayani sesamanya tahu bagaimana sebenarnya orang itu karena karakter sejati seseorang terungkap melalui caranya memperlakukan orang-orang yang melayaninya.
Perempuan Sunem ini dan suaminya hidup di dunia yang berbeda, namun jelas bahwa inisiatifnya dalam memenuhi kebutuhan orang lain membuat dirinya dan suaninya menjadi dekat. Ia tidak memohon, Maukah engkau membuatkan kamar untuk tamu kita?” Ia berkata, “Baiklah kita membuatkan kamar untuk tamu kita.” Dan dari proyek itu muncul suatu kehidupan baru bagi pasangan tersebut.
Keramahan juga terlihat dengan jelas dalam kehidupan jemaat mula-mula. Mereka pergi dari rumah ke rumah berbagi makanan dengan penuh sukacita. Mereka menggunakan waktu makan untuk memberitakan Firman Tuhan kepada orang lain dan mengajar orang-orang Kristen yang masih muda. Inilah kunci bagi pertumbuhan Gereja. Kebiasaan ini membuat para tetangga bertanya-tanya mengapa keluarga tertentu menjadi begitu popular secara tiba-tiba dan kemudian mengetahui bahwa mereka baru saja menjadi orang Kristen.
|