Seorang Cendekiawan Dan Tukang Perahu
Seorang cendekiawan menumpang sebuah perahu di suatu danau. Ia bertanya pada tukang perahu, "Eh sahabat, pernahkan Anda mempelajari matematika?" "Tidak." "Sayang sekali, berarti Anda telah kehilangan seperempat kehidupan Anda. Atau barangkali Anda pernah mempelajari ilmu filsafat?" "Itu juga tidak." "Dua kali sayang, berarti Anda kehilangan lagi seperempat dari kehidupan Anda. Bagaimana dengan sejarah?" "Tidak juga." "Artinya seperempat lagi kehidupan Anda telah hilang." Tiba-tiba angin bertiup kencang dan terjadi badai. Danau yang tadinya tenang menjadi bergelombang dan perahu pun oleng. Cendekiawan itu pucat ketakutan. Dengan tenang tukang perahu itu bertanya, "Apakah Anda pernah belajar berenang?" "Tidak." "Sayang sekali, berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda."
Tuhan lebih besar
Ini cerita seorang anak perempuan yang sepulang dari gereja bertanya pada ibunya, “Ma, khotbah pagi ini membingungkan saya.” Ibunya bertanya, “Oh, apakah itu?” Gadis kecil itu berkata, “Ia mengatakan bahwa Tuhan lebih besar dari kita semua. Apakah itu benar?” “Ya, itu memang benar,” jawab ibunya. “Ia juga mengatakan bahwa Tuhan berada di dalam diri kita semua. Apakah itu benar?” Lagi-lagi ibunya menjawab, “Ya.” “Kalau begitu,” kata anak itu, “Tuhan lebih besar dari kita dan Dia berada di dalam diri kita, bukankah Ia akan tampak?”
Tuhan itu seperti apa?
Seorang guru taman kanak-kanak berjalan keliling kelasnya untuk melihat yang dikerjakan murid-muridnya pada pelajaran menggambar.
Ketika ia sampai pada seorang anak perempuan, ia bertanya apakah yang sedang digambarnya. Anak itu menjawab, “Saya sedang menggambar Tuhan.” Guru itu bertanya, “Tetapi tak ada orang yang tahu Tuhan itu seperti apa.” Jawab anak itu, “Sebentar lagi mereka akan tahu.”
Si Optimis Dan Si Pesimis
Seorang ayah mempunyai sepasang anak kembar. Salah satunya seorang yang optimis dan satunya lagi pesimis. Pada hari ulang tahun anaknya yang kembar itu, ketika kedua anak itu masih di sekolah, si ayah memenuhi kamar si pesimis dengan berbagai mainan yang mahal. Sedang kamar si optimis ia isi dengan pupuk kotoran kuda. Malam itu si ayah masuk ke kamar si pesimis dan mendapatkan ia sedang duduk di antara mainannya sambil menangis. “Mengapa kamu menangis?” tanya si ayah. “Tentu teman-teman saya akan iri, dan saya harus membaca buku instruksi, dan saya selalu memerlukan batere yang baru, dan mainan ini akhirnya akan rusak,” jawab si pesimis. Lalu si ayah masuk ke kamar si optimis, dan ia melihat si optimis menari-nari kegirangan di atas tumpukan pupuk kotoran kuda. “Mengapa kamu begitu gembira?” tanya si ayah. “Karena pasti ada kuda di sini!” jawab si optimis
Tuhan dimana?
Sepasang suami isteri mempunyai dua anak laki-laki berumur 8 dan 10 tahun. Keduanya sangat nakal, mereka selalu terlibat bila terjadi ketidakberesan di kota itu. Kedua orang tua itu hampir putus asa mendidik kedua anaknya. Ketika mereka mendengar pendeta di kota itu selalu berhasil mendisiplinkan anak-anak nakal, mereka membawa kedua anaknya ke pendeta itu. Anak yang 8 tahun masuk duluan. Pendeta itu memandangnya dengan tajam dan bertanya, “Kamu tahu, Tuhan ada dimana?” Anak itu kebingungan. Pendeta itu memperkeras suaranya, “Ayo, dimana Tuhan?” Anak itu makin bingung. Pendeta itu menudingkan jarinya ke dahi anak itu dan berteriak, “Dimana Tuhan?” Anak itu ketakutan dan lari keluar. Kakaknya yang masih di luar mengejar adiknya seraya bertanya, “Apa yang terjadi?” Adiknya dengan ketakutan berkata, “Wah kita celaka, Tuhan telah hilang dan mereka menyangka kita yang mengambilnya.”
|
|
|
|
Page 1 of 29 |