Dancing On The Water

Pernah mengalami hal yang rasanya terburuk dalam hidup? Sesuatu yang disebut “titik terendah” dalam hidup kita. Mungkin sudah berlalu, tapi mungkin saking hebatnya peristiwanya, bukan mustahil sampai sekarang kita masih merasakan pedih lukanya. Tidak mudah, hidup dengan bayang-bayang kegelapan masa lalu.

Alkitab, hampir di bagian awalnya, tepatnya di Kejadian 1:2 mencatat suatu peristiwa yang menarik. “Bumi belum berbentuk dan kosong” – dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani, kata “belum berbentuk” (towhu) dan “kosong” (bowhu) berarti suatu kehancuran yang sudah tidak berbentuk lagi, sesuatu yang kacau balau dan rusak. Lalu kata “gelap gulita” (kho-sek) menyimbolkan kesedihan, kematian, duka, kehancuran, kejahatan.

Namun kalimat itu tidak berhenti sampai di situ, tetapi ada tertulis bahwa Roh Allah ada melayang-layang. Hadirat-Nya ada di dalam keadaan yang terkacau dan bayangan yang paling gelap. Dan apa yang terjadi? Ayat selanjutnya menyatakan bahwa terang pun jadi dan segala kekacauan pun sirna. Dalam malam tergelap, dalam badai terdahsyat, hadirat-Nya selalu ada untuk kita.

Kejadian 1:2 – Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”

3 thoughts on “Dancing On The Water”

  1. Pingback: jfd98ayhcim
  2. Pingback: fsgb80v7cbwe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *