<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yakin Hidup Sukses Ministries &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://www.yhs.net/category/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.yhs.net</link>
	<description>Changing Lives Through Jesus&#039; Love</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 23:00:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Menyembunyikan Kebenaran</title>
		<link>http://www.yhs.net/menyembunyikan-kebenaran/</link>
		<comments>http://www.yhs.net/menyembunyikan-kebenaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 23:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kukuh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yhs.net/?p=4503</guid>
		<description><![CDATA[Baca: Mazmur 78:1-11 Ayat Mas: kami tidak hendak sembunyikan… tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada Tuhan dan kekuatan-Nya, dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. (Mazmur 78:4) Dalam sebuah pertemuan guru dan orangtua, peserta diminta menilai perbedaan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="id_4fb2f2f896e396945969114">Baca: Mazmur 78:1-11<br />
Ayat Mas: kami tidak hendak sembunyikan… tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada Tuhan dan kekuatan-Nya, dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. (Mazmur 78:4)</p>
<p>Dalam sebuah pertemuan guru dan orangtua, peserta diminta menilai perbedaan dua daftar judul cerita sekolah minggu. Daftar pertama: <span id="more-4503"></span>Adam dan Hawa, Nuh Membuat Bahtera, Berani Seperti Daniel. Daftar kedua: Tuhan Menciptakan Dunia dan Manusia, Tuhan Menghukum Dunia dengan Air Bah, Tuhan Menyelamatkan Daniel dari Gua Singa. Sangat jelas. Daftar pertama berbicara tentang manusia, yang kedua tentang Tuhan. Alkitab merupakan satu kesatuan kisah Tuhan dan rencana-Nya yang agung atas dunia ini, namun sering diajarkan dan diterima orang sebagai kumpulan kisah teladan moral.</p>
<p>Yang demikian bukanlah tekad Asaf. Ia mengajak segenap bangsanya untuk memperkenalkan Tuhan dan karya-Nya dari generasi ke generasi (ayat 5-6). Asaf memulai dari dirinya sendiri (ayat 2-3). Bukan hanya kebaikan dan kehebatan Tuhan yang ia ceritakan, tetapi juga murka-Nya terhadap dosa (lihat ayat 12-72). Tak ada aspek yang disembunyikan Asaf. Ia sengaja melakukannya dengan tujuan: supaya yang mendengar percaya kepada Tuhan dan memegang perintah-perintah-Nya (ayat 7), tidak mengulangi kesalahan para orangtua yang tidak setia (ayat 8).</p>
<p>Tentu tak ada di antara kita yang berniat menyembunyikan kebenaran Tuhan. Namun, itu bisa terjadi karena kita sendiri tidak memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan. Kita enggan belajar apalagi hidup dalam firman-Nya. Bagaimana bisa membagikan sesuatu yang kita sendiri tidak punya? Mari bertekad seperti Asaf. Mengenal dan memperkenalkan Tuhan dari generasi ke generasi, supaya mereka percaya dan memegang perintah-perintah-Nya. –ELS</p>
<p>SEJAUH MANA PENGENALAN KITA AKAN TUHAN, SEJAUH ITULAH KITA DAPAT MENOLONG ORANG LAIN UNTUK MENGENAL-NYA.</p></div>
<div data-ft="{&quot;type&quot;:11,&quot;tn&quot;:&quot;C&quot;}"><strong><strong>Renungan Harian®</strong></strong></p>
<div></div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yhs.net/menyembunyikan-kebenaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasih Tanpa Batas</title>
		<link>http://www.yhs.net/kasih-tanpa-batas/</link>
		<comments>http://www.yhs.net/kasih-tanpa-batas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 23:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kukuh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yhs.net/?p=4500</guid>
		<description><![CDATA[Baca: Hosea 11:1-11 Ayat Mas: Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan. (Hosea 11:9)Kita tentu tidak asing ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="id_4fb2f2f8973273b18684104">Baca: Hosea 11:1-11<br />
Ayat Mas: Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan. (Hosea 11:9)Kita tentu tidak asing dengan cerita rakyat Malin Kundang. Cerita tentang seorang anak yang melupakan kebaikan ibu yang telah <span id="more-4500"></span>membesarkannya. Setelah kaya, ia malu mengakui ibunya yang sudah tua dan miskin. Ibunya berusaha menyadarkan, tetapi ia tetap tidak mau mengakui. Akhirnya kesabaran sang ibu habis. Malin Kundang dikutuk menjadi batu. Kesabaran sang ibu, sebagai manusia, ada batasnya.Hosea menggambarkan hati Allah yang penuh belas kasih dengan begitu indah. Meski begitu, kebaikan dan belas kasih-Nya kerap kali dilupakan umat Israel. Mereka lupa bahwa Tuhanlah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir, dan menolong sepanjang perjalanan menuju tanah perjanjian (ayat 1). Ironisnya, bukannya mensyukuri kemurahan dan pertolongan Tuhan, mereka malah menjauh dari Tuhan. Mereka berpaling menyembah ilah lain (ayat 2-4, 7). Sungguh bersyukur bahwa Tuhan bukan manusia Dia tak pernah habis kesabaran seperti ibu Malin Kundang. Dia memberi disiplin pada umat-Nya (ayat 5-6), namun tidak menghendaki umat-Nya “hangus” dan “binasa” (ayat 8-9). Tuhan adalah pribadi penuh belas kasihan yang menghendaki umat-Nya bertobat.</p>
<p>Membaca bagian firman Tuhan hari ini membawa kita kembali menyelami kebesaran kasih Tuhan, sekaligus menyadari betapa kita sangat layak dimurkai. Bukankah kita pun sering berpaling dari-Nya seperti bangsa Israel? Segala perbuatan-Nya dalam hidup kita terlupakan begitu saja. Bersyukur bahwa Tuhan bukan manusia yang terbatas dalam kasih. Mari mohon Tuhan menolong kita untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. –YBP</p>
<p>KASIH IBU SEPANJANG JALAN. KASIH TUHAN TIDAK ADA BATASNYA.</p>
</div>
<div data-ft="{&quot;type&quot;:11,&quot;tn&quot;:&quot;C&quot;}"><strong><strong>Renungan Harian®</strong></strong></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yhs.net/kasih-tanpa-batas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha Menjaring Angin</title>
		<link>http://www.yhs.net/usaha-menjaring-angin/</link>
		<comments>http://www.yhs.net/usaha-menjaring-angin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 23:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kukuh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yhs.net/?p=4483</guid>
		<description><![CDATA[Bacaan: Yohanes 4:1-42 barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus &#8230; - Yohanes 4:14 Semuanya dimulai dari sebuah keinginan. Keinginan yang tak banyak. Kita hanya menginginkan satu hal saja. Satu pekerjaan baru. Sebuah rumah baru. Seorang pasangan. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><img src="http://www.renungan-spirit.com/skin/images/renungan/usaha_menjaring_angin.jpg" alt="" border="0" /></div>
<p><span style="color: #999999;">Bacaan: Yohanes 4:1-42</p>
<p>barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus &#8230; <em>- Yohanes 4:14</em></span></p>
<p>Semuanya dimulai dari sebuah keinginan. Keinginan yang tak banyak. Kita hanya menginginkan satu hal saja. Satu pekerjaan baru. Sebuah <span id="more-4483"></span>rumah baru. Seorang pasangan. Sebuah mercy sederhana. Sejumlah deposito, tak banyak juga tak apa. Atau bagaimana dengan sebuah jabatan baru? Seandainya keinginan kita sudah tercapai tentu kita akan merasa sangat puas dan perburuan tentang “hal-hal duniawi” itu akan berakhir, demikian kita berpikir.</p>
<p>Nyatanya? Pekerjaan kita yang baru terasa membosankan dan kita menginginkan pekerjaan yang lain. Rumah kita baru rupanya tak begitu bagus, apalagi jika kita melirik rumah tetangga sebelah. Mobil Mercy kita ternyata juga tak cukup mengangkat derajat kita, rasanya kita butuh mobil lain. Awalnya kita sangat puas dengan deposito yang kita miliki, tapi itu tak cukup memasukkan nama kita dalam daftar konglomerat. Jabatan baru ternyata sangat mengasyikkan, tapi lebih asyik lagi kalau bisa menggeser posisi atasan. Hidup dengan pasangan memang sangat indah, tapi sayang itu dulu&#8230; sekarang kita mulai lirik-lirik yang lain, siapa tahu dulu kita salah mengambil tulang rusuk.</p>
<p>Keinginan manusia tak ada habisnya. Kita tidak akan pernah puas. Bahkan ketika seisi dunia sudah menjadi milik kita, tak menutup kemungkinan kita masih menginginkan planet yang lain. Ini fakta yang sangat alkitabiah : dunia tidak akan pernah bisa memuaskan kita! Tahu keinginan dunia tak ada habisnya, tak seharusnya kita terpikat dan terjerat dengan semua keinginan ini. Semuanya hanya akan berujung pada kesia-siaan belaka.</p>
<p>Kita bukan berasal dari dunia. Kita adalah warga surga, itu sebabnya biarkanlah Allah yang memuaskan kita. Ya, hanya Allah yang bisa memuaskan kita, bukankah Yesus pernah berkata, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” Sungguh bodoh kalau kita menghabiskan semua waktu, tenaga, dan semua yang kita miliki hanya untuk mengejar sebuah keinginan yang tak ada habisnya. Mengutip perkataan Salomo, itu semua adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Sebaliknya, sungguh bijak orang yang mengejar perkara-perkara rohani lebih daripada perkara duniawi, karena ia akan mendapat kepuasan yang sejati dalam hidup.</p>
<p>Tata ulang prioritas hidup Anda. Kejarlah hal-hal rohani lebih daripada keinginan duniawi.</p>
<p>(Kwik) Renungan Harian Spirit</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yhs.net/usaha-menjaring-angin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikan Besar</title>
		<link>http://www.yhs.net/ikan-besar/</link>
		<comments>http://www.yhs.net/ikan-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 23:00:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kukuh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yhs.net/?p=4471</guid>
		<description><![CDATA[Baca: Yunus 1:17-2:10 Ayat Mas: Maka atas penentuan Tuhan datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya. (Yunus 1:17) Orang Ibrani mempunyai keyakinan bahwa “dunia orang mati” itu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="id_4fac677f233f05f28125861">Baca: Yunus 1:17-2:10<br />
Ayat Mas: Maka atas penentuan Tuhan datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya. (Yunus 1:17)</p>
<p>Orang Ibrani mempunyai keyakinan bahwa “dunia orang mati” itu berada di bawah. Ya, jauh di kedalaman di bawah sana. Gelap; mengerikan; <span id="more-4471"></span>jauh dari hadirat Tuhan. Ketika Yunus dilempar ke dalam lautan yang sedang bergelora, pastilah ia merasa bahwa dirinya sedang dikirim ke “dunia orang mati” itu. Ternyata tidak! Seekor “ikan besar” menelannya atas perintah Tuhan!</p>
<p>Yunus berada di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam. Ia menyadari, ternyata di pusat lautan, ia masih hidup (ayat 3). Tuhan belum selesai berurusan dengannya. Yunus bukan saja dikejar-Nya dengan “badai besar” (lihat Yunus 1:12), melainkan juga ditangkap-Nya dengan “ikan besar”. Kini, ia layaknya seorang anak dalam genggaman erat tangan bapanya. Yunus sadar, jika “badai besar” dan “ikan besar” saja taat kepada Tuhan, bukankah sepatutnya ia mematuhi panggilan Tuhan? Ia teringat kepada Tuhan (ayat 7). Dan, dalam kesempatan hidup yang kedua itulah Yunus bertekad memenuhi nazarnya kepada Tuhan dalam rasa syukur, Yunus berdoa kepada Tuhan (ayat 9). Perut ikan itu seolah malah menjadi sebuah ruang doa yang hening bukan kuburan sepi baginya.</p>
<p>Apakah kita merasa tengah berada di “perut ikan besar” yang menelan kita setelah kesalahan besar yang kita lakukan pada masa lampau? Mungkin itu adalah kondisi sakit parah, ekonomi yang sedang jatuh, studi yang gagal, cinta yang kandas, atau bahkan je- ruji penjara. Tuhan belum selesai dengan kita. Berpalinglah kepada-Nya dan berdoalah, dengan diiringi keyakinan bahwa kondisi kini apa pun itu justru dapat Dia pakai sebagai “perut ikan” yang akan mengembalikan kita kepada tujuan-Nya yang mulia. –PAD</p>
<p>SEKALIPUN RENCANA KITA GAGAL TERLAKSANA, TUHAN TAK PERNAH GAGAL MEMENUHI RANCANGAN-NYA.</p></div>
<div data-ft="{&quot;type&quot;:11,&quot;tn&quot;:&quot;C&quot;}"><strong><strong>Renungan Harian®</strong></strong></p>
<div></div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yhs.net/ikan-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyata Dalam Kegelapan</title>
		<link>http://www.yhs.net/nyata-dalam-kegelapan/</link>
		<comments>http://www.yhs.net/nyata-dalam-kegelapan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 23:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kukuh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yhs.net/?p=4467</guid>
		<description><![CDATA[Baca: Ayub 42:1-6 Ayat Mas: Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5) Gelap kerap diidentikkan dengan hal-hal negatif. Namun, tidak bagi para astronom di Boscha, Lembang. Gelap mutlak diperlukan dalam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="id_4fac677f239476a21028070">Baca: Ayub 42:1-6<br />
Ayat Mas: Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5)</p>
<p>Gelap kerap diidentikkan dengan hal-hal negatif. Namun, tidak bagi para astronom di Boscha, Lembang. Gelap mutlak diperlukan dalam <span id="more-4467"></span>pengamatan bintang dan benda-benda angkasa nan indah. Sayangnya, pembangunan pemukiman dan gedung-gedung baru membuat langit Bandung dan sekitarnya menjadi makin terang benderang saat malam. Kondisi ini membuat para peneliti khawatir, pengamatan benda-benda angkasa lewat teropong bintang tak lagi bisa dilakukan karena polusi cahaya.</p>
<p>Dalam perjalanan hidup bersama Tuhan, kita pun kerap menolak “gelap”. Kita berharap Dia senantiasa membawa kita berjalan dalam terang. Kenyataannya, ada masa ketika Dia membawa kita berjalan melewati lembah kelam. Lihatlah Ayub. Dalam izin dan kedaulatan Tuhan, Ayub pernah mengalami keadaan yang sangat buruk. Malapetaka menimpanya bertubi-tubi, hingga Ayub berkeluh kesah (Ayub 3). Tuhan pun menyatakan diri-Nya di tengah badai (Ayub 38-41). Tidak semua pertanyaan Ayub dijawab Tuhan. Namun, apa yang dinyatakan Tuhan itu lebih dari cukup bagi Ayub. Ia mengerti. Sama seperti kilau bintang yang tampak paling indah di kegelapan malam, malapetaka yang Ayub alami adalah sarana yang Tuhan pakai untuk menyatakan Pribadi-Nya dalam hidup Ayub yang selama ini luput dari pengamatannya (ayat 5).</p>
<p>Gelap tak selamanya buruk. Keadaan apa pun yang kita alami saat-saat ini dapat menjadi sarana Tuhan menyatakan kasih, kuasa, berkat, dan Pribadi-Nya. Lebih dari itu, Dia rindu kita makin mengenal dan mengalami-Nya secara pribadi, hingga kita dapat mengaku: “… sekarang kukenal Engkau dengan berhadapan muka” (ayat 5 BIS). –OKS</p>
<p>TUHAN MENGIZINKAN KEGELAPAN HADIR DALAM HIDUP ANDA, SUPAYA TERANG-NYA TERLIHAT MAKIN NYATA.</p></div>
<div data-ft="{&quot;type&quot;:11,&quot;tn&quot;:&quot;C&quot;}"><strong><strong>Renungan Harian®</strong></strong></p>
<div></div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yhs.net/nyata-dalam-kegelapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perhatikanlah…</title>
		<link>http://www.yhs.net/perhatikanlah%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://www.yhs.net/perhatikanlah%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 May 2012 23:00:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kukuh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yhs.net/?p=4463</guid>
		<description><![CDATA[Baca: Ratapan 3:21-32 Ayat Mas: Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:21-23) Ada hal-hal yang senang saya lihat di pagi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="id_4fac677f23e653326426434">Baca: Ratapan 3:21-32<br />
Ayat Mas: Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:21-23)</p>
<p>Ada hal-hal yang senang saya lihat di pagi hari. Bunga-bunga yang semalam menguncup, kembali mekar berseri; anak-anak sekolah melangkah<span id="more-4463"></span> penuh semangat; sayuran segar tertata rapi di gerobak penjual sayur; langit biru membentang menggantikan gelap malam; sinar matahari yang terasa hangat menyentuh kulit. Memperhatikan “sapaan Tuhan” itu, segala penat kemarin seolah sirna, semangat saya diperbarui lagi.</p>
<p>Di tengah penderitaan, penulis kitab Ratapan mengarahkan perhatiannya pada hal yang tepat. Ia tidak berfokus pada situasi, tetapi pada kasih setia Tuhan. Ia memperhatikan pagi demi pagi berganti, dan tahu bahwa itu dimungkinkan karena pemeliharaan Tuhan yang setia (ayat 22- 23). Ia sadar bahwa yang terpenting bagi jiwanya adalah Tuhan, bukan hal yang lain (ayat 24). Di dalam penderitaan dan tekanan hidup, ia percaya akan kebaikan Tuhan (ayat 25). Itulah sukacita dan pengharapannya. Sekalipun tampaknya Tuhan tak segera menyelesaikan masalah, namun ia yakin Tuhan tahu waktu yang terbaik untuk segala sesuatu, jadi ia pun menanti (ayat 26-32).</p>
<p>Hal apakah yang hari-hari ini merampas perhatian Anda? Badai masalah? Tekanan hidup? Alihkan perhatian Anda kepada Allah dan berharaplah kepada-Nya. Kesetiaan-Nya tampak jelas bahkan lewat hal-hal sesederhana sinar mentari dan udara pagi. Perhatikan bagaimana Dia mencukupkan dalam kebutuhan sehari-hari, bahkan ketika terkadang kita lupa memohonnya. Perhatikan pertumbuhan karakter yang dimunculkannya dalam diri Anda melalui beragam situasi sulit. Perhatikan pertolongan-Nya yang selalu tepat waktu. Ya, perhatikan dan perhatikanlah lagi. –SCL</p>
<p>ARAHKAN PERHATIAN ANDA DENGAN TEPAT: BUKAN PADA BESARNYA MASALAH TAPI PADA BESARNYA TUHAN.</p></div>
<div data-ft="{&quot;type&quot;:11,&quot;tn&quot;:&quot;C&quot;}"><strong><strong>Renungan Harian®</strong></strong></p>
<div></div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yhs.net/perhatikanlah%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Bisa Hidup Tanpa Harapan</title>
		<link>http://www.yhs.net/tak-bisa-hidup-tanpa-harapan/</link>
		<comments>http://www.yhs.net/tak-bisa-hidup-tanpa-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 23:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kukuh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yhs.net/?p=4462</guid>
		<description><![CDATA[Bacaan: Mazmur 62:1-13 Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.- Mazmur 62:6 Sebagian besar memiliki statement, “Jika tidak ingin kecewa, jangan terlalu banyak berharap.” Tentu saja pendapat ini tak selamanya benar. Bukankah kita tahu bahwa manusia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><img src="http://www.renungan-spirit.com/skin/images/renungan/tak_bisa_hidup_tanpa_harapan.jpg" alt="" border="0" /></div>
<p><span style="color: #999999;">Bacaan: Mazmur 62:1-13</p>
<p>Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.<em>- Mazmur 62:6</em></span></p>
<p>Sebagian besar memiliki statement, “Jika tidak ingin kecewa, jangan terlalu banyak berharap.” Tentu saja pendapat ini tak selamanya benar. <span id="more-4462"></span>Bukankah kita tahu bahwa manusia tidak akan pernah bisa hidup tanpa harapan? Kalau pun masih bisa hidup tanpa harapan, bukankah kita juga tahu bahwa kehidupan yang dihasilkan tentu juga tidak maksimal. Hidup tanpa harapan hanya akan membuat kita menjadi malas, enggan melakukan sesuatu yang besar, tak lagi punya semangat dan memandang hidup sebagai sesuatu yang sangat sia-sia.</p>
<p>Hidup kita akan jauh dari kata maksimal seandainya kita tidak memiliki harapan. Hanya sebuah pengharapanlah yang membuat kita berani bermimpi, bahkan memimpikan sesuatu yang besar bagi kehidupan kita. Hanya sebuah harapan sajalah yang membuat kita berani membayangkan seperti apa jadinya kita kelak lima atau sepuluh tahun yang akan datang. Hanya sebuah harapan sajalah yang membuat hidup kita fokus dengan rencana besar yang sedang Tuhan siapkan. Hanya sebuah harapan lah yang membuat kita menjalani hidup dengan cara yang luar biasa.</p>
<p>Berbeda dengan statement tersebut di atas, justru saya berkata, “Bersiap-siaplah kecewa jika tak memilik banyak harapan.” Ingat, hidup ini hanya sekali, jadi sungguh menyedihkan jika kita tak memiliki harapan dalam hidup yang hanya sekali ini. Sebab kalau boleh saya menggambarkan, harapan itu seperti sebuah batu baterai yang memberikan kekuatan dan mengaktifkan sebuah alat. Boleh jadi kita memiliki alat secanggih apapun, namun jika baterainya habis atau bahkan tidak ada baterainya, bisa dipastikan alat itu tak lagi bisa berfungsi.</p>
<p>Harapan akan memberikan kepada kita kekuatan dan motivasi yang sangat besar untuk memaksimalkan potensi diri. Bersyukur bahwa di dalam Tuhan bahwa harapan yang kita bangun tidak hanya berdasar atas keinginan atau obsesi kita saja, melainkan karena Tuhan memiliki rencana yang jelas dalam hidup kita. Kalau harapan kita karena Tuhan, tentu tidak ada yang mustahil atau terlalu sulit untuk kita capai. Bukankah Alkitab berkata bahwa kita akan cakap menanggung segala perkara bersama dengan Kristus yang memberikan kekuatan dan pengharapan kepada kita? Jadi bermimpilah, hidupilah terus dan biarkan harapan memberi kekuatan kepada kita untuk mencapai yang terbaik.</p>
<p>Tuliskanlah harapan-harapan Anda dalam secarik kertas dan doakanlah itu setiap saat.</p>
<p>(Lisa)  Renungan Harian Spirit</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yhs.net/tak-bisa-hidup-tanpa-harapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Praktis Menghancurkan Diri</title>
		<link>http://www.yhs.net/cara-praktis-menghancurkan-diri/</link>
		<comments>http://www.yhs.net/cara-praktis-menghancurkan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 23:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kukuh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yhs.net/?p=4456</guid>
		<description><![CDATA[Bacaan: Yakobus 3:13-18 sebab dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan &#8230;- Yakobus 3:16 Hati-hati dengan ego kita. Sungguh “mahkluk yang sangat berbahaya” yang ada di dalam diri kita. Jika kita dengan sengaja membangunkannya dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><img src="http://www.renungan-spirit.com/skin/images/renungan/cara_praktis_menghancurkan_diri.jpg" alt="" border="0" /></div>
<p><span style="color: #999999;">Bacaan: Yakobus 3:13-18</span></p>
<p>sebab dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan &#8230;<em>- Yakobus 3:16</em></p>
<p>Hati-hati dengan ego kita. Sungguh “mahkluk yang sangat berbahaya” yang ada di dalam diri kita. Jika kita dengan sengaja membangunkannya<span id="more-4456"></span> dan menyerahkan kendali hidup kita kepadanya, saya bisa pastikan seabrek masalah sudah siap menanti kita. Ego tidak akan pernah membawa kita ke jalan yang tepat. Ego tak akan membuat keadaan kita lebih baik, sebaliknya kehancuran dan keterpurukanlah yang diberikannya. Ego kadangkala memaksa kita melakukan hal-hal yang konyol dan kebodohan-kebodohan yang lain.</p>
<p>Yang diperlukan hanyalah meminta maaf, tapi ego memaksa kita untuk berdebat dan membuat luka menganga lebih lebar lagi.<br />
Yang diperlukan hanyalah mendengarkan, tapi ego memaksa kita untuk membuka mulut kita lebar-lebar.<br />
Yang diperlukan hanyalah mengakui kesalahan, tapi ego memaksa kita untuk melirik sosok di samping untuk dijadikan kambing hitam.<br />
Yang diperlukan hanyalah membiarkan si sopir ugalan-ugalan mendahului kita, tapi ego memaksa kita untuk meladeni tantangannya.<br />
Yang diperlukan hanyalah mengucap syukur, tapi ego memaksa kita untuk menggerutu dan menyalahkan situasi yang tak bersahabat.<br />
Yang diperlukan hanyalah meletakkan beban dan menyerahkannya kepada Allah, tapi ego memaksa untuk mengurusnya sendiri.</p>
<p>Ego hanya menghadirkan kesombongan. Merasa diri kuat tanpa orang lain, bahkan tanpa Allah sekalipun. Tidak perlu nasihat. Tidak butuh wejangan. Aku bisa mengatur dan menangani diriku sendiri. Aku bisa berdiri dengan kedua kaki sendiri. Aku punya kekuatan. Aku punya kekuasaan. Aku punya pengalaman. Aku punya kekayaan. Aku punya segalanya. Aku pasti bisa. “Aku” memang menjadi kata favorit bagi ego. Tak sadar bahwa keakuan kita lah yang pada akhirnya menghancurkan diri kita sendiri.</p>
<p>Jangan beri kesempatan untuk ego mengendalikan hidup kita. Biarkan Kristus yang ambil alih kemudi. Kalau Ia yang ambil alih, semuanya pasti beres. Masalah sepelik apapun akan selesai dengan manisnya kalau Kristus yang bekerja. Jadi mengapa mesti ngotot dengan kekuatan sendiri?</p>
<p>Hari ini Anda segera beraktifitas, kepada siapakah Anda memberikan kendali hidup Anda?<br />
Saya tantang Anda untuk menyerahkan kendali kepada Kristus dan bukan kepada ego Anda.</p>
<p>(Kwik) renungan-spirit</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yhs.net/cara-praktis-menghancurkan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pandanglah Pada Yesus</title>
		<link>http://www.yhs.net/pandanglah-pada-yesus/</link>
		<comments>http://www.yhs.net/pandanglah-pada-yesus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 23:00:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kukuh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yhs.net/?p=4448</guid>
		<description><![CDATA[Baca: Mazmur 121 Ayat Mas: Pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. (Mazmur 121:2)Apakah Anda mengenal lagu “Pandanglah Pada Yesus”? Lagu ini ditulis Helen H. Lemmel dalam kondisi hidup yang tidak menyenangkan. Pada pertengahan usia hidupnya, ia menderita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="id_4fa8952789cd18354008674">Baca: Mazmur 121<br />
Ayat Mas: Pertolonganku ialah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. (Mazmur 121:2)Apakah Anda mengenal lagu “Pandanglah Pada Yesus”? Lagu ini ditulis Helen H. Lemmel dalam kondisi hidup yang tidak menyenangkan. <span id="more-4448"></span>Pada pertengahan usia hidupnya, ia menderita kebutaan yang membuatnya ditinggalkan suami. Ia juga beberapa kali mengalami serangan jantung. Lagu yang digubahnya itu menjelaskan “rahasia” yang membuat ia mampu bertahan melalui berbagai situasi yang menyesakkan hingga akhir hidupnya.</p>
<p>Jauh sebelum Helen mengalami berbagai pergumulannya, pemazmur mengalami kerumitan hidup yang tak kalah besar dan menggubah pula pujian yang indah dalam Mazmur 121. Dalam kesulitan, ia berusaha mencari pertolongan. Ia memandang ke gunung-gunung (ayat 1) dan Tuhan (ayat 2). Gunung-gunung batu yang kokoh secara fisik memang dapat menjadi tempat perlindungan yang baik dari serangan musuh. Namun, pemazmur tahu bahwa gunung-gunung itu tidak dapat menjamin keamanan seutuhnya. Ia menyadari bahwa pertolongan sejati itu datang dari Tuhan, meski Dia secara fisik tak tampak. Ia yakin bahwa hanya Tuhan yang mampu menjagainya 24 jam, menaunginya dari segala bahaya, dan yang tidak pernah terlelap (ayat 3-8). Pertolongan Tuhan itulah yang memampukannya melewati setiap pergumulan.</p>
<p>Hidup yang kita jalani tidak mudah. Ada tantangan dan badai yang harus dilalui. Di tengah berbagai kesulitan hidup, kepada apa atau siapa kita mengarahkan pandangan kita meminta kekuatan dan pertolongan? Adakah hal-hal lain, selain Tuhan, yang menjadi sumber pengandalan diri kita? Pandanglah kepada Yesus Pribadi yang dapat memberi pertolongan sejati, dan memampukan melewati pergumulan dengan cara-Nya. –BER</p>
<p>LELAH DAN SUSAHKAH JIWAMU, SERTA GELAP GULITAKAH? PANDANGLAH T’RANG JURUS’LAMATMU, HIDUPMU ‘KAN BAHAGIALAH.(KIDUNG PUJI-PUJIAN KRISTEN NO. 174)</p>
</div>
<div data-ft="{&quot;type&quot;:11,&quot;tn&quot;:&quot;C&quot;}"><strong><strong>Renungan Harian®</strong></strong></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yhs.net/pandanglah-pada-yesus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Tetapi” yang Kudus</title>
		<link>http://www.yhs.net/%e2%80%9ctetapi%e2%80%9d-yang-kudus/</link>
		<comments>http://www.yhs.net/%e2%80%9ctetapi%e2%80%9d-yang-kudus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 23:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kukuh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yhs.net/?p=4447</guid>
		<description><![CDATA[Baca: Habakuk 3 Ayat Mas: … namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. (Habakuk 3:18) Rasanya kita kerap mendengar pernyataan seperti ini, “Pak Pendeta A itu sebenarnya pintar, tetapi khotbahnya sulit dimengerti.” Awalnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="id_4fa895278a7fc1265864870">Baca: Habakuk 3<br />
Ayat Mas: … namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. (Habakuk 3:18)</p>
<p>Rasanya kita kerap mendengar pernyataan seperti ini, “Pak Pendeta A itu sebenarnya pintar, tetapi khotbahnya sulit dimengerti.” Awalnya <span id="more-4447"></span>pujian, ujungnya kritikan, dijembatani kata sambung tetapi. Orang itu bermaksud mengkritik, tetapi menghaluskannya dengan melontarkan pujian dulu. Maksud utamanya ya pernyataan sesudah kata tetapi itu: kritikan.</p>
<p>Alkitab juga banyak memuat “jembatan “tetapi”, namun dengan maksud yang sama sekali berbeda. Ratapan Habakuk, misalnya. Nabi ini meratapi kondisi bangsanya yang memprihatinkan. Ia tidak menyanggah kenyataan kasat mata yang memilukan dan mengecewakan di sekitarnya. Pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang (ayat 17). Hanya saja, ia tidak berkutat di situ. Dengan meniti “jembatan tetapi”, ia mengarahkan pandangan pada penyelamatan dan pemeliharaan Allah: “… namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan” (ayat 18). Kita dapat menyebutnya sebagai “tetapi yang kudus” dan kita dapat menerapkannya dalam keseharian kita.</p>
<p>Anda menghadapi kondisi yang mengecewakan, tidak sesuai dengan harapan Anda? Anda tidak perlu melarikan diri dari kenyataan ini; Anda hanya perlu meniti “jembatan tetapi” untuk mengarahkan pandangan pada kebenaran Allah. Misalnya, “Tuhan, aku sulit mengampuni si A dan aku tahu aku tidak mampu mengampuninya dengan kekuatanku sendiri. Tetapi, kasih-Mu begitu besar dan tidak terbatas. Alirkanlah kasih-Mu itu melalui diriku.” Maka, seperti terang mengusir kegelapan, kebenaran Allah yang kekal pada akhirnya akan menelan kenyataan yang fana. –ARS</p>
<p>HADAPI KENYATAAN HIDUP DENGAN BERFOKUS PADA KEBENARAN TUHAN.</p></div>
<div data-ft="{&quot;type&quot;:11,&quot;tn&quot;:&quot;C&quot;}"><strong><strong>Renungan Harian®</strong></strong></p>
<div></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.yhs.net/%e2%80%9ctetapi%e2%80%9d-yang-kudus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

