Ibadah Natal Bethany Taiwan 2010

Minggu, 19 Desember 2010, pukul 10.00, Gereja Bethany Indonesia di Taiwan menyelenggarakan ibadah perayaan natal gabungan antara gereja Bethany sendiri, dimana terdapat di empat (4) kota yaitu gereja Bethany kota Taipei, kota Chungli, kota Hsinchu dan kota Chinsan. Ibadah perayaan natal diselenggarakan di Gedung Kemenangan 勝利天廈, 桃園縣中壢市中山路88號5樓 (5Flr, No.88, Chung San Rd) Chungli City, Taoyuan County, tepatnya di gereja Bethany Chungli. Ibadah ini dihadiri kurang lebih 450 jemaat, ibadah berlangsung kurang lebih 2 jam, berlangsung dengan baik dengan penyertaan dan hadirat Tuhan. Continue reading “Ibadah Natal Bethany Taiwan 2010”

Arti Natal Sebenarnya

Bulan Desember memang identik dengan Natal. Dan biasanya di bulan ini, akan muncul banyak hal-hal istimewa khas Natal, seperti pohon Natal, lampu Natal, kue Natal, kartu Natal, dsb. Pesta-pesta pun mulai digelar. Ibadah pun demikian. Bahkan biasanya lebih meriahdibanding bulan-bulan lainnya. Mengapa? Ya, iyalah, kan Natal. Namun sesungguhnya jika kita membaca kembali Firman Tuhan, apakah sesungguhya makna merayakan Natal? Dan haruskah kita merayakannya dalam gemerlap suasana dan situasi yang menghabiskan banyak uang? Ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan, yaitu:

Continue reading “Arti Natal Sebenarnya”

Ular Yang Tersembunyi

Ketika saya masih kecil, keluarga kami tinggal didaerah pertanian. Pada musim semi, kami berhasil membunuh 13 ekor ular derik dalam waktu singkat. Membunuh ular berbisa adalah suatu hal yang mudah jika anda tahu tempat ia berada dan sejauh mana jangkauan serangannya. Karena itualah, saya dan saudara-saudara saya tidak pernah merasa kahawatir denganular-ular yang dapat kami lihat. Akan tetapi, kami akan sangat khawatir kalau-kalau menginjak ular berbisa yang kehadirannya tidak terlihat oleh kami.

Raja Hizkia “digigit” oleh sebuah godaan yang terselubung. Bukan digoda oleh iblis yang besar dan tampak jelas. Hal tersebut terjadi karena ia membiarkan sikap sombong dan mengandalkan diri sendiri menghancurkan kariernya. Ia seharusnya percaya kepada Tuhan yang akan memberikan perlindungan dari para musuh. Akan tetapi, ia malah mencari perlindungan melalui suatu persekutuan dengan bangsa yang menyembah berhala (2 Tawarikh 32 : 25, 31).

Sayang sekali raja yang baik itu justru menodai pemerintahannya dengan dosa ini. Kita patut waspada agar tidak membiarkankesombongan kita bertahta dihati kita sehingga kita, seperti Hizkia, menyerah terhadap tipu muslihat musuh. Mungkin kita dipersiapkan untuk melawan ajakan dosa yang tampak jelas dan dapat menodai nama kita, tetapi bisa jadi kita tidak siap menghadapi godaan kehidupan yang “cerdik”.

Waspadalah terhadap “ular yang tersembunyi”. Ular-ular seperti itu justru yang paling membahayakan!

Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian. Amsal 29:23.